RADIO ONLINE YUNUS, BERISI LAGU ROHANI
RADIO YUNUS.............
 

Sadar Diri, Kondisi Dan Situasi

Menjadi seorang pemimpin bukan seperti membalikkan telapak tangan. Setiap pemimpin harus menyadari realita kepemimpinan yang dia jalani.  Alkitab memberi contoh banyak dampak jual beli Injil akibat pemimpin tidak menyadari diri, kondisi atau situasi orang di sekitarnya. Karena itu setiap pemimpin perlu menyadari sedikitnya lima hal penting tentang diri dan lingkungan orang di sekitar kepemimpinannnya. 
Kesadaran pertama adalah soal “kesadaran tentang diri” (my personal).  Sebagai  pemimpin orang perlu mengenal diri, apa yang menjadi kelebihan dan  kekurangannya.  Banyak kelemahan dari para pemimpin justru karena dia tidak sadar tentang kelemahannya.  Yang dilihat hanya apa yang dikerjakan atau apa yang pantas dipuji, tapi dengan sengaja menutup-nutupi kesalahan.  Padahal, ketika kesalahan ditutupi dengan hasil yang dikerjakan, justru menunjukkan bahwa hasil itu tidak maksimal. Pemimpin perlu berkonsentrasi lebih kepada kelemahannya, bukan kelebihan.  Sebab kelebihan memang sesuatu yang sudah memiliki nilai lebih, sudah jago di bidang itu, jadi tak perlu terlalu dipusingkan. Karena itu pemimpin perlu berkonsentrasi di bidang lain, bidang di mana dia lemah untuk makin melengkapi diri, memperbaiki diri, supaya muncul sebagai orang yang selalu mengerjakan satu pekerjaan dengan kesadaran utuh.  Kesadaran tentang apa yang mampu dikerjakan dan apa yang tidak mampu dia garap.  Perlu tahu juga seberapa kuat diri dan sejauh mana keterbatasannya.  Tidak saja mengerti kelebihan dan kelemahannya, tapi juga mengerti batas-batas dari keterbatasannya. 
Kesadaran kedua, adalah sadar “siapa yang dipimpin”.  Pemimpin harus tahu persoalan orang yang ada disekitarnya.  Tidak hanya mengenali diri mereka, tapi juga tahu apa yang menjadi potensi dan krisisnya.  Dengan begitu pemimpin tahu bagaimana membina kerjasama dengan orang-orang yang ada disekitarnya.  Tidak sedikit pemimpin yang terjebak hanya melihat potensi tapi abai melihat krisisnya.  Alhasil, ketika ada suatu masalah, baru pemimpin  krisis orang yang dipimpin yang sebelumnya tidak dilihat dan perhatikan. Kesadaran tidak utuh dalam melihat berdampak pada penempatan yang salah.   Bukan itu saja, seorang pemimpin juga musti tahu orang-orang yang dipimpin kelak akan di bawa ke mana.  Pemimpin harus tahu bagaimana memberi tahu pada orang yang dipimpin.  Sementara yang dipimpin pun tahu ke mana pemimpin akan membawa dia.   Ke mana pemimpin akan mengarahkan dia.  Sehingga orang yang dipimpin pun tahu apa yang menjadi potensi dia dan krisisnya.   
Kesadaran ketiga adalah “Areal”, tempat di mana orang memimpin.  Dalam konteks  dan lokasi budaya seperti apa dia memimpin.  Misal seorang pemimpin hendak memimpin orang di Medan, maka sudah pasti pemimpin harus mempelajari tipikal orang Medan yang keras dan agresif.  Begitu pula ketika memimpin orang di Jawa,  maka kebalikannya, orang jawa lebih kalem, tidak bisa bermain di dalam tataran high speed, kecepatan yang tinggi seperti pada orang Medan.  Mengapa ini penting, karena ketika orang hendak masuk ke kalangan orang jawa, tapi merasa tidak cocok, seyogianya tidak perlu memaksakan diri masuk.  Jangan sampai ketika sudah masuk, baru orang mengatakan bahwa dirinya seperti ini, terserah orang mau terima atau tidak.  Perlu mengerti dulu areal yang akan dihadapi.  Kalau cocok silakan, tetapi kalau tidak, tidak perlu masuk.  Jika sudah mengerti, berarti pemimpin tahu di mana dia berada, dia sadar apa yang akan terjadi dan risiko yang dihadapi.   Apa yang ada di sana, termasuk permasalahan-permasalahannya, itu juga pemimpin perlu tahu.  Bukan sekadar style-nya, tapi permasalahan apa yang akan dihadapi. 
Kesadaran keempat adalah soal “periodal”.  Ini berbicara tentang kapan seseorang itu memimpin.  Apakah sedang revolusi, sedang merdeka, atau dalam kondisi apa, ini pemimpin juga harus tahu. Juga bicara tentang scope yang lebih besar.  Periodal ini membahas tentang seseorang tahu memimpin di daerah mana, tetapi juga musti tahu kondisi krisis yang sedang terjadi di daerah/ tempat itu.  Dalam Periodal tidak saja diperhatikan kondisi krisis, tapi juga tingkat kejenuhan dan keterbatasan diri seseorang, sehingga memiliki kesadaran tentang durasi dia harus memimpin. Tidak perlu mempertahankan sesuatu yang memang tidak lagi tepat.  Karena itu diperlukan kesadaran periodiknya.  Dalam konteks ini seorang pemimpin juga perlu menghasilkan pemimpin-pemimpin muda, sebab Ini sangat penting.  Periodal membuat seorang pemimpin sadar tentang kondisi seperti apa, bagaimana, dan berapa lama waktu yang tepat.
Kesadaran kelima seorang pemimpin harus tahu apa yang menjadi “Goalnya”.  Membincangkan soal alasan orang memimpin atau tujuan seseorang memimpin.  Kalau tidak memiliki tujuan, untuk apa orang memimpin, apakah sekadar untuk gagah-gagahan?  Mungkin orang tahu tujuan memimpin, tapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah dia mampu atau tidak. Kalau mampu, berapa lama, atau bagian apa saja? Pemimpin perlu berhati-hati dalam hal ini agar dapat memberikan sumbangsih yang nyata dalam kepemimpinananya.  Untuk itu semua pihak, khususnya pemimpin perlu mempraktekkannya mulai dari lingkungan terkecil, yakni gereja.  Supaya lingkungan gerejawi memberi suasana kondusif yang memunculkan pemimpin-pemimpin yang punya kesadaran penuh, sehingga dapat memimpin di tengah-tengah areal perjuangan mereka, entah sebagai pengusaha, pegawai negeri, karyawan swasta, atau bahkan pejabat.  Sebagai pemimpin kristen orang dituntut untuk bisa memberikan cerminan, teladan tepat untuk para pemimpin lain  yang masih ganas, buas, yang bernafsu besar, supaya pemimpin lain dapat belajar. 
Untuk dapat memimpin atau menjadi pemimpin, orang hendaknya dapat bersabar.  Orang mungkin dapat maju, dapat populer lebih cepat dari kondisi real, tapi dalam beberapa hal perlu diperhatikan, perlu pelan-pelan, perlu kesederhanaan, selangkah demi selangkah.  Karena, kalau memang sudah waktunya, pasti Tuhan akan buka jalan.  Setiap pemimpin harus menyadari realita kepemimpinan yang dijalaninya.  Atau dia akan menjadi pemimpin yang tersesat atau menyesatkan para pengikutnya. 

0 komentar:

Poskan Komentar